Selasa, 05 November 2019

Milad 1 SSMBM

Satu tahun sudah, Kegiatan gowes berbasis jamaah masjid. Pecinta pancal sepeda merambah jajaran orang orang yang saban hari berjamaah sholat di masjid Baitul Muqoddimah Bantul.

Pada hari sabtu, 02 November 2019 di helat acara Milad 1 SSMBM (Sepeda Santai Masjid Baitul Muqoddimah) digelar di Poskamling Rt 01 Teruman Bantul.

Potong tumpeng Bpk Kadus Kreses Minung Mulyanto di serahkan kepada Ketua SSMBM Bp Rujoko.
Acara di awali dengan pembukaan, sambutan ketua panitia hingga pengajian di sampaikan Bp Ust Muh Masyhudi.

Sejumlah undangan sebanyak 100 orang sebagian antusias untuk bergabung.
 Dengan mengedarkan 100 undangan kepada berbagai pihak termasuk Bp Rt 01 Rt 01.
 Komunitas bersepeda SSMBM selain mengunjungi obyek wisata seputar Bantul dan sekitarnya, juga berkunjung ke tempat tempat yang layak untuk dijadikan studi banding, seperti Kampung Anggur Plumbungan Bambanglipuro Bantul.
 Kegiatan bersepeda, menjadi agenda rutin setiap pekan. Selama satu tahun berjalan, tempat yang dikunjungi obyek wisata dan saudara.

Jumat, 26 Juli 2019

Kisah Inspiratif Pelajar Paspasan.

MAN JADDA WA JADA. Barangsiapa yang bersungguh sungguh maka ia akan berhasil. Demikianlah ungkapan. Sesiapa dengan sekuat tenaga meski penuh keterbatasan, yakinlah bahwa keberhasilan akan menghampiri.



Sebuah kisah yang diceritakan oleh salah seorang teman.

Disebuah desa di pinggiran sebelah barat Yogyakarta. Berdiamlah seorang keluarga sederhana. Ayahnya seorang buruh tani, sementara sang ibu seorang pengrajin tempe.

Dari keluarga ini, tumbuh seorang remaja biasa. Remaja kampung yang tidak begitu pandai. prestasi akademiknya juga biasa biasa saja di salah satu sekolah menengah swasta.

Karena anak ini rajin membantu ibunya membikin tempe, ia sering membaca sobekan koran bekas untuk bungkus tempe tersebut. Dari kebiasaan membaca koran bekas inilah timbul niatnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi yaitu perguruan tinggi.

Secara nalar memang sangat tidak lazim untuk bisa meneruskan ke perguruan tinggi. Sekolah Menengah Atas Swasta dengan prestasi biasa biasa. Apalagi melihat orang tuanya dalam keadaan kekurangan. Untuk memenuhi kebutuhan dasar harian saja mesti bekerja keras.

Untuk beberapa saat kepalanya pusing untuk mendapatkan solusi bagaimana dia harus berjuang untuk bisa masuk ke perguruan tinggi.

Alhmadulillah akhirnya jalan keluar datang juga. Dengan tergopoh gopoh dia mendatangi salah seorang kerabat di kota untuk bekerja serabutan. Hasil dari jerih payahnya selamat setahun dia kumpulkan untuk mengikuti bimbingan belajar di sebuah lembaga.

Karena dia mengetahui, prestasi yang pas pasan tidak mungkin bersaing dengan siswa lain yang lebih pinter dan ditunjuang dengan fasilitas.

Setelah menempuh belajar selama satu tahun di bimbel, akhirnya bisa diterima di sebuah perguruan tinggi negeri untuk jurusan exsak.

Selama setahun kuliah, pulang kuliah kembali bekerja pada seorang kerabatnya.

Karena jarak yang cukup jauh dengan kampus dan tempat kerja, maka dia memberanikan mencari tempat bekerja lain yang sekitaran kampus.

Dia mendapat tempat kerja dekat kampus di sebuah warung lesehan. Malam dia bekerja disitu, dengan hasil dan bisa makan gratis. Sementara paginya pergi ke kampus.

Hingga sampai semester tiga belajar di jurusan exsak yang sebenarnya tidak sesuai dengan yang dia harapkan dari awal. Maka, ketika ada kesempatan melanjutkan pendidikan di jurusan komunikasi, dia beralih kesitu meski mengorbankan waktu beberapa tahun lagi.

Berada di Kampus dengan jurusan Komunikasi, semakin menempa dirinya untuk sering menulis. Mencoba beberapa kali mengirim tulisan akhirnya bisa di terima dan dimuat disebuah koran lokal di Yogyakarta.

Dengan rajin mengirimkan naskah ke penerbit tambahlah uang sakunya untuk menambal kebutuhan selama pendidikan.

Jenjang pendidikan Sarjana diraih dengan segenap perjuangan dan keikhlasan.

Setelah cukup berpengalaman dalam dunia pembelajaran dan kepenulisan. Dia masuk kepada jenjang S2 di sebuah kampus di Semarang.

Jarak dari Rumah di Jogja ke Kampus di Semarang ditempuh dengan sepeda motor setiap akhir pekan. Pulang balik, hingga sudah berapa kali ban motornya pecah di jalan. Dan hafal betul titik titik jalan termpat oprasi kendaraan.

Selama satu setengah tahun melakukan perjalanan untuk kuliah menempuh S2, hingga sukses datang. Dia dapat meraih prestasi Nilai tertinggi dan Tercepat dalam meraih program S2.

Nah, inilah hasil dari kesungguhan dan ikhtiar yang tiada henti. Berkat doa dan dukungan orang tua, Allah memberikan kemudahan setelah berbagai hal yang sukar dia alami.

Semoga bermanfaat.

Kamis, 06 Juni 2019

Mudik

Kapan terakhir anda mudik? Atau sampai sekarang 1440H/2019M masih melangsungkan tradisi tahunan permudikan?

Apapun harus mudik. (pict Google)
Mudik begitu indah.

Tapi bersyarat, yaitu punya kampung halaman. Lahir di situ menikmati masa anak remaja, mengenyam pendidikan hingga SLTA, setelah itu kuliah dan bekerja di Ibukota. Dapat jodoh tidak dari kota yang sama. Barulah bisa mudik.

Bagi aku, mudik hanya nebeng istri saja. Silaturahmi tahunan wajib sungkem kepada mertua. Menjalin kekeluargaan kepada kerabat dan tetangga istri.

Karena itulah, bisa menikmati perjalanan panjang lima jaman sampai tujuan. Bantul - Purbalingga. Memang nyaman menggunakan bus EFISIENSI. bisa tiduran, turun rest area sampai tujuan tidak begitu capek.

Mengapa motoran? yah karena belum punya mobil!
pict from google.
Menikmati aspal dari Bantul melalui jalur lintas selatan selatan (JLSS). Relatif sepi sehingga mobil motor luar kota melaju begitu kencang. Apalagi melewati area Purworejo Kebumen. Belasan kali melalui jalur ini, jalan belum sepenuhnya mulus. aspal belum jadi, dan sebagian rusak.

Melewati Karanganyar Kebumen hingga Pasar Gombong pun biasanya macet lumayan parah. Baru setelah belok kanan memasuki waduk Sempor, jalan kembali agak sepi tidak seperti jalan utama.

Dari Waduk Sempor hingga ke Susukan Banjar Negara ini medan sangat foto genik. Jalan pinggir sungai berkelok memanjang. Bebatuan besar, Pohon cemara menghijau serta kontur persawahan teras siring. Ingin berhenti disini.

waduk Sempor dari sisi barat.
Jalan sepanjang sempor halus, beberapa kali kelokan dengan turunan dan tanjakan. Lumayan curam. Setelah sampai ke puncak, perlahan jalanan menurun hingga sampai ke sebuah sungai dan lapangan bola kampung. Dari sinilah, pertanda sudah berada di Kab Banjarnegara.

Setelah melewati jembatan sungai Serayu, tinggal perjalanan lurus sampai ke kota Purbalingga.

Masjid Darusalam Purbalingga.
Menelusuri jalan pinggiran kota hingga sampai ke Alun alun Purbalingga. menunjukkan perjalanan setengah hari sudah selesai.

Mudik selalu membawa kesan birrul walidain. Silaturahmi kekeluargaan. Semua ikut merasakan, baik yang muslim maupun non muslim, yang beribadah sungguh sungguh atau tidak. Semua larut dalam suasana penuh kekerabatan.

Mudik berangsur angsur tinggal kenangan setelah ibu bapak mertua telah tiada. Rumah induk keluarga juga sudah berpindah kepemilikan. Trus mau mudik kemana lagi ya enaknya?

Syawal 1440 H.

Rabu, 10 April 2019

Berburu Masa Lalu di Kota Kudus

Menyambung kembali tali silaturahmi itu berat. Merakit kembali benang benang persaudaraan karena ada hubungan darah sangat dianjurkan dalam Islam.

Bahkan, ada sebuah hadist yang isinya kurang lebih, barang siapa yang bertandang ke rumah seseorang tanpa ada tendensi sesuatupun maka Allah akan mengampuni dosa dosanya.

Namun, bagi kita yang biasa jalan jalan dan bersilaturahmi hal tersebut menjadi pelecut untuk sering pergi melancong dengan dalih silaturahmi. gak ada salahnya kan...??

Aku & Menara Kudus.
Keluarga kami, mempunyai saudara di Kota Kudus. Beberapa tahun silam ketika ibu saya dan bude masih sugeng, saling berkunjung, terutama di hari hari istimewa. Idul Fitri, atau sedang hajatan.

Ketika aku masih SD agenda untuk ke Kudus menjadi agenda yang begitu ditunggu tunggu. Perjalanan melewati Secang, Ambarawa semarang. Melewati pemandangan hutan, perbukitan dan jalan turun berkelok menjadi sesuatu yang sangat indah. Apalagi nanti bisa diceritakan ke teman SD yang jarang jalan jalan.

Sepanjang kota semarang dan Demak waktu itu banyak melihat orang orang mandi di sepanjang sungai pinggir jalan. Namun sekarang sudah susah untuk ditemui.

Jalan jalan kota Kudus masih sejuk seperti dulu.
Menyusur jalan yang dua puluh tahun tidak terkunjungi membutuhkan ingatan yang lumayan. Memasuki kota Demak dan Kudus, ingatan kupaksa kembali mengingat jalan dan nama nama sebelum sampai ke lokasi rumah saudara.

Nama yang aku ingat adalah Pasar Kliwon, Pabrik Nojorono, Pasar Cangkerep dan tentu saja kampung Nganguk Pengapon.


Di gang ini dulu ada pasar pagi, namanya pasar Cangkerep dimana bude ku berjualan jamu.
Angkot warna hijau mengantarkanku ke Pasar Kliwon. Susah untuk mengingat, bagaimana dulu kondisi pasar ini dan perbedaan dengan sekarang. Aku lebih berkonsentrasi untuk mencari Pasar Cangkerep saja.

Lama tidak ke sini, aku ingin untuk segera sampai ke rumah bude. Sudah memasuki kampung Bude, yaitu Nganguk Pengapon. Memasuki gang gang kecil yang aku sudah tidak ingat lagi. Hanya berbekal insting dan kira kira. Hingga sampai sebuah masjid.

"Nah..ini keliatannya masjid yang dekat rumah bude. Kalo ujungnya adalah gang pinggir sungai maka dipastikan sudah sampai." Batinku.

Alhamdulillah benar dugaanku. Sampai sebuah sungai yang membelah kampung, berkelok. Kelokannya menuju ke gang ke rumah bude. Petualangan berakhir dengan manis.

Menara Kudus.

Bedug Masjid agung Kudus

Gerbang Menuju Masjid Komplek Menara Kudus.
Agenda kunjungan ke Kudus hanya sehari, maka paginya aku sempatkan berjalan dari rumah menuju Menara Kudus. Berjalan kaki sepanjang 1,5km sekalian olah raga.

Semoga suatu saat nanti  bisa berkunjung ke kota ini. Syukur bisa berkumpul bersama keluarga di Kudus.
This entry was posted in

Kamis, 21 Februari 2019

Seberapa Engkau Tahu


Ya..
Seberapa engkau tahu tentang ayahmu
Beliau hanyalah seorang petani kecil
lahan garap yang tidak begitu luas
hasil panen sekedar untuk makan
bahkan sebelum panen lagi
telah hilang tumpukan gabah

Seberapa engkau tahu tentang ayahmu
Beliau hanyalah seorang guru honorer
upah yang diterima tidak lebih
beberapa lembar warna biru
ketika dipertengahan bulan
dompet lusuh itu telah melompong

Seberapa engkau tahu tentang ayahmu
Beliau hanyalah seorang guru ngaji dikampung
tiada yang memperhatikan
amplop bulanan telah lama sirna
dari angan tua nya
surga dan neraka bukan lagi
tujuan akhir hidup manusia

Selasa, 22 Januari 2019

Menyambung Kembali Konco Lawas

Tri Yuwono. Nama teman satu kelas cukup kesohor sebagai teman paling lucu. Berperawakan sedang rambut tipis dan agak berombak. Biasanya duduk di deretan belakang. Terkesan pendiam, namung sekali kali nyeletuk bikin ngakak sekelas.
Tri Yuwono paling kiri

Selepas menamatkan bangku SMEA Sabdodadi Bantul segera bekerja dari pabrik satu ke pabrik yang lain. Diawali dari perusahaan mebel di Karangkajen, Palembang, banten hingga akhirnya kembali pulang ke Bantul.

Pengurus Alumni SMEA N Bantul jurusan Ketatauasahaan hari Ahad 20 Januari 2019 menyambanginya setelah sekian lama tidak bertemu.

Setelah berbincang dan bertukar kabar pertemuan diakhiri. Untuk keterjalinan persaudaraan antar alumni, dilaksanakan pertemuan rutin pertiga bulanan.

Selasa, 04 Desember 2018

Menyusur Desa Legendaris Mangir

Ada beberapa titik tujuan gowes kami. Saudara jauh dari anggota jamaah, tempat wisata, studi banding, silaturahmi ke jamaah masjid tertentu.

Ahad, 1 Desember 2018 rombongan gowes bertualang ke Dusun Mangir Sendangsari Pajangan Bantul.

Sebuah nama yang legendaris seantero jogja dan sekitarnya adalah Ki Ageng Mangir Wonoboyo.

Berada di sisi barat Kabupaten Bantul, Dusun Mangir diapit dua Sungai yaitu sungai Bedog dan Sungai Progo. Secara umum masih terlihat asri pepohonan terutama bambu Petung masih cukup lebat.

Dusun Mangir terbagi atas tiga yaitu Mangir kidul, Mangir tengah dan Mangir Lor. Bisa dicapai melalui Lapangan Gesikan ke Barat, bisa juga dari wilayah Pandak dan dari Jalur Pajangan Sedayu.

Berikut foto foto kegiatan kami pagi itu.

Jalur yang kami tempuh dari Lapangan Gesikan ke barat, melalui saluran air dan persawahan yang masih nampak alami dan asri.

Rombongan terdiri dari 19 orang

Melewati jembatan rusak dalam proses perbaikan di kampung Ngentak Mangir.

Sungai Bedog tampak surut meski berada di musim penghujan.

Pintu gerbang desa witasa Mangir dengan nuansa gaya majapahitan.

Memasuki petilasan Mushola, Randu Alas 

Inilah Mushola lawas yang masih dipertahankan keasliannya.

Berfoto di depan pohon randu alas yang sudah berusia puluhan tahun.




Masih terlihat banyak sampah di Bendungan Ngancar sebelah selatan desa Mangir. Nampak begitu kurang sedap di pandang mata.

Disebelah utara juga demikian, genangan sampah berhenti dibawah pintu air.

Rabu, 14 November 2018

Nikmati Sensasi di Masjid Ini

Ada beberapa masjid megah dan indah di kawasan Kabupaten Sleman. Belum lama berdiri dan langsung terkenal adalah Masjid Suciati. Malah sebagian orang meluangkan waktu berwisata di masjid ini.

Masjid Suciati berada di Jalan Gito Gati dekat dengan Alun alun dan kompleks perkantoran Kab Sleman. Dibangun oleh seorang pengusaha ayam, Ibu Suciati Saliman.

Selain Masjid Suciati beberapa kampus di kawasan Sleman tidak kalah megahnya. Masjid Kampus UII Masjid Ulil Albab, Masjid Kampus UGM dan tidak lama lagi Masjid Rumah Sakit dr Sardjito masih dalam tahap pemugaran.
Masjid Baitunnur Ngaglik Sleman.

Namun, menurutku ada sebuah masjid yang indah di kawasan Kabupaten Sleman. Berada di Jalan Kaliurang Km 10,5 berada di Kampung Sardonoharjo Rt 02 Ngalangan Sinduharjo Ngaglik Sleman. Namanya Masjid Jami' Baitunur.

Sampeyan pernah kesini?

Beberapa poin yang membuat masjid ini mempunyai nilai plus di banding masjid yang lain. (menurut aku ya hehe)

1. Letak masjid tidak berada disisi jalan raya, menjadikan suasana beribadah lebih khusuk dan tenang.

2. Tempat parkir yang begitu luas, memanjakan para pembawa kendaraan mobil dan motor.

3. Lingkungan parkir rimbun dengan pepohonan tertata rapi, bersih dan rindang. Kendaraan dijamin tidak panas.

4. Di bawah masjid terdapat sungai yang airnya mengalir alami. Berada di dalam masjid suasana syahdu dan sejuk. Udara panas akan tersapu angin dan air yang mengalir di bawahnya. Tanpa harus memasang AC pendingin.

5. Gemericik air sungai menambah suasana terkesan berada di alam pedesaan yang menentramkan.

6. Imam masjid bersuara merdu enak untuk di nikmati .

Ada seorang temen yang mengatakan, jika masjid ini berscore paling tinggi diantara masjid yang berada di Jalan Kaliurang Yogyakarta.

Jika sampeyan penasaran, silakan sekali waktu mampir ke masjid ini. Ancer ancernya, sebelah utara Pasar Gentan masih ke utara. Setelah Swalayan mina utaranya ada pintu gerbang masuk kampung. Masuk ke gerbang itu. Masjid berada di sebelah selatan jalan.

Apakah adalagi masjid yang senyaman ini???

Minggu, 04 November 2018

Gowes Perdana : Green Banyon

Hari Ahad 04 November 2018 Jam 05.00 tet temen temen sudah ngumpul di halaman masjid Baitul Muqoddimah Bantul.

Even gowes bareng bapak remaja dan anak anak baru pertama di laksanakan. Menyenangkan memang.

Rute yang ditempuhpun ternyata luar biasa meski hanya dekat dekat lingkungan rumah.
Jam 05.00 sudah ontime ngumpul.
Start dari masjid Agung manunggal Bantul melajur lewat jalan raya Bantul hingga perempatan Gardu Wisata Kasongan.  Sampai di depan pohon Ringin berhenti sejenak untuk minum.

Rehat di depan pohon Ringin kasongan.



Jalur perpulangan setelah melewati Desa Wisata Kasongan menyisir pinggir sebelah barat sampai ke Dusun Kalipucang. Dari sini ada jembatan baru, melalui persawahan yang tidak begitu luas memasuki kampung Pendowo.

Dari ujung kampung masuk ke arah barat sampai pada sebuah jalan kecil diapit Sungai Bedog dan salurah air Pendowo jalan lurus ke selatan.

Tepat sampai aspal jalan Kalangan belok ke kanan menuruni diatas jembatan kali Bedog hingga ke ujung pertigaan. Sampai pertigaan Kalangan ambil ke kanan lurus sampai gerbang kampung Jipangan.

Pedukuhan Jipangan terkenal sebagai sentra kerajinan Kipas dari bambu. Disinilah ada obyek wisata yang sedang di garap.


Setelah memasuki Gerbang Kampung Jipangan pas di pertigaan ada tempat untuk parkir. Menuju area wisata yang sedang di garap di sebelah selatan Bendungan Pendowo.

Berada di belakang kampung Banyon, lebih asyik kalau di namai Green Banyon (sekedar usaulan nama pak) namanya sudah cukup menjual. hehe...

Rumpun Bambu Petung berada di area ini.
Rumpun Bambu Petung.
Dibagian atas sudah di bangun Gazebo gazebo permanen untuk peristirahatan.


Menuruni dari tempat gazebo ke bawah melalui jalur jalan setapak menuju area cukup luas. Cocok untuk arena permainan dan outbond. Karena belum tergarap pagi itu terlihat daun empring bertebaran disana sini.


Area Out Bound.
Karena sedang musim kemarau, debit air sungai Bedog berkurang drastis. terlihat sebagian dasar sungai dan tebing di pinggiran sungai.


Tebing sungai Bedog terlihat berkarang karena debit air Sungai berkurang karena kemarau.

Kondisi air seperti ini tidak memungkinkan untuk kegiatan Rafting disini. Bisa bisa perahu karet mogok di perjalanan.



Inilah penampakan Bendungan Pendowo dari area calon obyek wisata Jipangan Bangunjiwo Kasihan Bantul.
Air terlihat jernih dan bening tanpa aliran limbah dari pabrik gula Madukismo.
Berada di kawasan obyek wisata yang berada disekitarnya, sangat mendukung untuk pengembangan obyek ini. Dekat dengan Obyek Wisata Goa Selarong, Desa Wisata Kasongan maupun Kampung kerajinan Krebet Pajangan.

Tentu di perlukan kerja keras semua pihak untuk mengangkat calon obyek wisata ini, Green Banyon. hehehe..

Bantul 04 November 2018

Sabtu, 03 November 2018

Belajar Semangat dari Bu Pairah

Semangat mengaji di kalangan ibu ibu memang luar biasa. Di mana tempat hampir semua majelis taklim di penuhi ibu ibu. Demikian pula di salah satu majelis taklim pembelajaran baca al qur’an di salah satu kampung di Kecamatan Minggir Sleman.
Ibu ibu bersemangat mengaji. Foto : koleksi pribadi

Salah satu dari peserta adalah Bu Pairah usia sekitar 74 tahun. Kerinduan yang dalam untuk bisa membaca Al Qur’an melecut semangat dan rintangan yang ada.

Karena di kampungnya tidak ada tempat untuk belajar membaca Al Qur’an, maka beliau mengikuti ditempat lain kalurahan.

Jarak dari rumah dengan tempat pengajian sekitar 3 km. melewati jalan rusak sepanjang hamparan persawahan. Dengan menaiki motor sendirian.
Berangkat mengaji tanpa ada teman, sudah merupakan nilai lebih tersendiri.

Jika tidak ada keperluan berarti maupun sakit, setiap kamis sore selalu hadir awal di majelis taklim.

Karena sudah cukup sepuh, daya tangkap dan ucap Bu Pairah tentu jauh dari peserta yang masih muda. Hal inipun tidak membuat minder semangatnya untuk bisa membaca qur’an.

Dari awal belum mengetahui jenis huruf hijaiyyah dan setelah berbilang tahun barulah bu Pairah mulai sedikit lancar membaca Al Qur’an.

Perjalanan yang ditempuh bukannya lancar lancar saja. Sudah dua kali beliau terjatuh dari sepeda motornya ketika berangkat mengaji. Hal ini juga tidak mengendurkan semangat mengajinya. Subhanallah luar biasa.

Proses dalam meraih cita cita seperti inilah yang nanti akan dinilai Allah SWT bukan hasilnya. Sudah belajar bertahun tahun, namun hasilnya masih terbata bata tentu tidak mengurangi pahala dalam mengaji.


Bagaimana dengan kita?

yang pengin ngaji qur'an dari awal wa 087738137036

Bantul 03-11-2018

Rabu, 31 Oktober 2018

Hobi Bapak Ini Luar Biasa !

Kami bertemu dengan beliau di ruang tunggu di poli sebuah rumah sakit. Perawakannya gemuk berkacamata, penuh ceria dan supel kepada sesiapa.

Hampir kepada semua diakrabinya. Banyak senda gurau penuh keceriaan, meski saat itu berada di tempat orang dengan sakit yang relatif berat.

Setelah berkenalan, baru saya tau kalau bapak ini salah satu pasien yang lebih dua puluh tahun antri untuk mendapatkan perawatan kesehatan dan obat disini.

Dua puluh tahun, waktu yang cukup lama.
Foto sebagai illustrasi. dari Raihan Sid

Beliau seorang pengajar di sebuah perguruan tinggi.

Penyakit yang dideritanyapun bukan sembarang penyakit biasa. Beberapa penyakit kelas berat pernah beliau alami. Jantung,gagal ginjal dll. Berobat hingga ke Singapura pernah dijalani.

Dengan rentang waktu yang cukup lama bergelut dengan penyakit. Namun semangat dan optimisme yang sangat tinggi, membuat usia kelihatan lebih muda.

Tidak jarang, bapak ini memberikan banyak motivasi bagi penderita lain yang berada di tempat ini.

Ada dua hal hobi bapak ini yang luar biasa.

Pertama, satu hari dalam sebulan, bapak ini selalu berkeliling ke rumah sakit, masuk ke bangsal dan menemui seorang pasien. Pasien yang sebelumnya tidak beliau kenal.

Sampai di sana, beliau beramah tamah, bersilaturahmi.

Tentu keluarga pasien terkaget kaget dengan kedatangannya.

Di akhir kunjungan beliau, tidak lupa mendoakan pasien dan memberikan amplop kepada keluarga pasien. Subhanallah.

Kedua, satu hari dalam sebulan, beliau berkeliling untuk mencari orang yang meninggal dunia. Ketika mendengar pengumuman di masjid beliau catat dimana alamatnya. Atau berkeliling mencari bendera putih berkibar.

Disitu beliau bersilaturahmi dan menshalatkan jenazah tak lupa mendoakannya.

-------------------------------------------------------------------------------------

Saya kurang tau persis, mengapa bapak ini memilih hobi yang berbeda.

Hanya bisa disimpulkan bahwa dengan banyak silaturahmi dan berkunjung orang yang kesusahan akan membahagiakan dan menghidupkan hati.

Mungkin anda tertarik untuk meniru hobby bapak ini??

Minggu, 14 Oktober 2018

Begini Cara Iklan di KR Jogja

Untuk pasang iklan di harian Kedaulatan Rakyat dan Tribun Jogja ternyata begitu mudah dan efisien.

Hanya tiga klik lewat WA anda, materi iklan sudah siap tayang di media lokal kota Yogyakarta.

Dimanapun posisi anda saat ini tidak akan sulit ketika sinyal handphone anda tergapai.

Silakan cek lampiran gambar di bawah ini.





Sabtu, 13 Oktober 2018

Relawan Masjid Begitu Pentingkah?

Dari masjid membangun masyarakat madani.

Masjid mestinya menjadi sentra seluruh kegiatan dimensi kehidupan. Dari pendidikan, ekonomi sampai kemanusiaan. Membangun manusia untuk patuh dan taat kepada Rabbnya. Di sisi yang lain, manusia mempunyai nilai bermanfaat bagi manusia lainnya.

Berangkat dari sini, maka peran masjid semakin urgen dan fundamental dalam membangun masyarakat secara umum. Seperti yang telah dilakukan Rasulullah Muhammad SAW.

Salah satu ciri masjid dikelola dengan manajemen kekinian adalah mulai lengkap piranti organisasi ketakmiran. Ada devisi kebersihan, baitul maal, klinik kesehatan, olah raga dan lain lain.

Devisi yang ada untuk menjawab kebutuhan jamaah yang dari waktu ke waktu berangsur mengalami kemajuan. Banyaknya anggota jamaah masjid mesti dibarengi dengan pelayanan dan pemberdayaan anggotanya.

Masjid yang dikelola secara tradisional kadang masih belum cukup untuk melangkah maju berhadapan dengan majunya zaman.

Sebuah devisi pemberdayaan anggota dan pengurus takmir adalah terbentuknya relawan masjid.

Kita kemukakan ide kemunculan relawan masjid untuk menanggapi permasalahan yang di temui personal jamaahnya.

Relawan lebih di tuntut untuk setiap saat mampu meringankan beban dan musibah yang sedang dialami jamaah masjid tersebut.

Bagaikan relawan bencana alam, relawan masjid lebih diutamakan mempunyai sikap tanggap dan cekatan memberikan pertolongan yang bersifat fisik dan sosial dalam batas kemanusiaan.

Karena untuk kebutuhan ekonomi ataupun finansial akan tertopang dengan keberadaan baitul maal.

Kemajuan pendidikan jamaah akan tertopang para asatidzah yang mempunyai ilmu agama yang mumpuni.

Sebagai contoh. Ketika ada anggota jamaah masjid yang sedang terkena kecelakaan. Mau tidak mau dia berhenti dari aktifitas keseharian. Pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan harian menjadi kalang kabut.

Sawah yang menjadi tanggung jawab pekerjaannya terbengkalai. Rumput tumbuh liar hingga menyebabkan gagal panen. Hal ini bisa teratasi jika relawan tanggap membantu menyiangi rumput tersebut. Dengan 10 relawan sehari selesai menyelesaikannya.

Ketika ada keluarga jamaah masjid opname di rumah sakit. Kebetulan tidak ada keluarganya, anak anaknya semua diluar kota, sementara saudara dekat tidak ada. Maka peran relawan menjadi sangat penting dalam kondisi seperti ini.

Untuk menempati posisi relawan masjid tidak dibutuhkan kemampuan ceramah agama, retorika yang bagus, bekal ilmu quran yang memadai dan lain lain.

Cukup dengan sikap tanggap dan enthengan, sudah menjadikan dakwah lebih berarti bagi masyarakat sekelilingnya.

Ide pembentukan relawan masjid mestinya menjadi agenda penting dan mendesak bagi para takmir masjid seIndonesia.

Berawal dari masjid mari kita galang kemajuan umat Islam yang berperadaban.

Bantul,13102018