Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 November 2020

Milad 2th SSMBM Sederhana Namun Meriah

 Rabu, 4 November 2020 Milad Komunitas sepeda SSMBM kembali digelar dengan sederhana.

Meski masih diliputi pandemi, kegiatan bareng bareng kumpul anggota pesepeda tetap berlangsung dengan mematuhi protokol kesehatan.


Panitia tidak mengundang Bpk dukuh serta perwakilan komunitas sepeda kampung lain karena suasana belum memungkinkan. Maka, pemotongan tumpeng dilakukan langsung Bpk Rujoko kemudian diserahkan kepada anggota paling sepuh, yaitu Bp Maryono.


Sambutan ketua SSMBM yang mestinya dilakukan pak Joko, diwakilkan kepada Pak Paijan.

Isi sambutan berisi kilas balik perjalanan SSMBM dari awal pembentukan hingga berjalan selama dua tahun. Selama kurang lebih dua tahun telah mengunjungi tempat wisata maupun kampung kampung yang mempunyai kegiatan positif.

Diantaranya adalah Kampung Dayu Gadingsari SAnden sebagai pilot project dalam pengelolaan sampah yang baru baru ini dikunjungi.

SSMBM telah membikin kaos komunitas sebanyak tiga kali dengan warna yang berbeda.

Artinya sudah dua milad beliaunya tidak bersedia untuk memberikan kata sepatah sambutan.

Berikut beberapa foto peserta milad yang hampir dihadiri semua peserta.




Acara inti Milad berupa tausyiah oleh Ust Suparman menyampaikan penting hidup sehat sebagai bekal untuk beribadah.



Setelah acara inti tausyiah, menjadi puncak acranya adalah makan bersama dengan menu spesial. Kepala kambing, Rica rica enthok, tongseng ayam kampung dan lain lain.


Pemutaran film dokumenter dilaksanakan setelah acara penutupan.

Kamis, 21 Mei 2020

Ramadhan Dalam Dekapan Corona


Ramadhan 1441 H atau di tahun 2020 sungguh sangat berbeda dengan tahun tahun sebelumnya.

Seluruh dunia terkena virus Covid19. Termasuk diantaranya Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahkan di kota ini beberapa daerah terdapat cluster penyebaran virus besar. Diberitakan, tiga kluster tersebut berada di Gunungkidul Bantul dan Sleman.

Waktu terus berjalan, di Bulan Ramadhan ditemukan kembali titik sebar cukup besar yaitu Indogrosir yang berada di jalan Magelang.

Virus berada dalam tubuh manusia sebagian menyebabkan kematian namun yang pulih sehat tidak sedikit.

Dalam kondisi seperti ini, praktis kegiatan keagamaan di Bulan Ramadhan menjadi berbeda. Anjuran untuk beribadah dirumah masing masing di sampaikan pemerintah.

Teras teras rumah berkumandang lantunan bacaan sholat.

Hingga menjelang akhir Ramadhan, suasana nampak begitu sepi. Kemeriahan yang biasanya terlihat kaum muslim bersemangat beribadah seakan luruh hilang dalam duka.

Kapan akan berakhir?

Pulih seperti waktu waktu sebelumnya belum bisa diprediksi secara pasti. Anjuran pemerintah di bulan Juni, aktivitas akan kembali normal namun beberapa kalangan meragukannya.

Melihat kejadian di Spanyol, bahwa gelombang dua justru akan membawa akibat buruk yang luar biasa. Kematian meraja lela.

Dampak jangka pendek, roda ekonomi sedang terpuruk dan mandeg.

Pemulihan kembali terasa cukup lamban, ada yang memperkirakan baru dua tahun yang akan datang.

Menikmati saja. semoga kita dikaruniai kesabaran dalam menghadapinya.


Selasa, 05 November 2019

Milad 1 SSMBM

Satu tahun sudah, Kegiatan gowes berbasis jamaah masjid. Pecinta pancal sepeda merambah jajaran orang orang yang saban hari berjamaah sholat di masjid Baitul Muqoddimah Bantul.

Pada hari sabtu, 02 November 2019 di helat acara Milad 1 SSMBM (Sepeda Santai Masjid Baitul Muqoddimah) digelar di Poskamling Rt 01 Teruman Bantul.

Potong tumpeng Bpk Kadus Kreses Minung Mulyanto di serahkan kepada Ketua SSMBM Bp Rujoko.
Acara di awali dengan pembukaan, sambutan ketua panitia hingga pengajian di sampaikan Bp Ust Muh Masyhudi.

Sejumlah undangan sebanyak 100 orang sebagian antusias untuk bergabung.
 Dengan mengedarkan 100 undangan kepada berbagai pihak termasuk Bp Rt 01 Rt 01.
 Komunitas bersepeda SSMBM selain mengunjungi obyek wisata seputar Bantul dan sekitarnya, juga berkunjung ke tempat tempat yang layak untuk dijadikan studi banding, seperti Kampung Anggur Plumbungan Bambanglipuro Bantul.
 Kegiatan bersepeda, menjadi agenda rutin setiap pekan. Selama satu tahun berjalan, tempat yang dikunjungi obyek wisata dan saudara.

Jumat, 26 Juli 2019

Kisah Inspiratif Pelajar Paspasan.

MAN JADDA WA JADA. Barangsiapa yang bersungguh sungguh maka ia akan berhasil. Demikianlah ungkapan. Sesiapa dengan sekuat tenaga meski penuh keterbatasan, yakinlah bahwa keberhasilan akan menghampiri.



Sebuah kisah yang diceritakan oleh salah seorang teman.

Disebuah desa di pinggiran sebelah barat Yogyakarta. Berdiamlah seorang keluarga sederhana. Ayahnya seorang buruh tani, sementara sang ibu seorang pengrajin tempe.

Dari keluarga ini, tumbuh seorang remaja biasa. Remaja kampung yang tidak begitu pandai. prestasi akademiknya juga biasa biasa saja di salah satu sekolah menengah swasta.

Karena anak ini rajin membantu ibunya membikin tempe, ia sering membaca sobekan koran bekas untuk bungkus tempe tersebut. Dari kebiasaan membaca koran bekas inilah timbul niatnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi yaitu perguruan tinggi.

Secara nalar memang sangat tidak lazim untuk bisa meneruskan ke perguruan tinggi. Sekolah Menengah Atas Swasta dengan prestasi biasa biasa. Apalagi melihat orang tuanya dalam keadaan kekurangan. Untuk memenuhi kebutuhan dasar harian saja mesti bekerja keras.

Untuk beberapa saat kepalanya pusing untuk mendapatkan solusi bagaimana dia harus berjuang untuk bisa masuk ke perguruan tinggi.

Alhmadulillah akhirnya jalan keluar datang juga. Dengan tergopoh gopoh dia mendatangi salah seorang kerabat di kota untuk bekerja serabutan. Hasil dari jerih payahnya selamat setahun dia kumpulkan untuk mengikuti bimbingan belajar di sebuah lembaga.

Karena dia mengetahui, prestasi yang pas pasan tidak mungkin bersaing dengan siswa lain yang lebih pinter dan ditunjuang dengan fasilitas.

Setelah menempuh belajar selama satu tahun di bimbel, akhirnya bisa diterima di sebuah perguruan tinggi negeri untuk jurusan exsak.

Selama setahun kuliah, pulang kuliah kembali bekerja pada seorang kerabatnya.

Karena jarak yang cukup jauh dengan kampus dan tempat kerja, maka dia memberanikan mencari tempat bekerja lain yang sekitaran kampus.

Dia mendapat tempat kerja dekat kampus di sebuah warung lesehan. Malam dia bekerja disitu, dengan hasil dan bisa makan gratis. Sementara paginya pergi ke kampus.

Hingga sampai semester tiga belajar di jurusan exsak yang sebenarnya tidak sesuai dengan yang dia harapkan dari awal. Maka, ketika ada kesempatan melanjutkan pendidikan di jurusan komunikasi, dia beralih kesitu meski mengorbankan waktu beberapa tahun lagi.

Berada di Kampus dengan jurusan Komunikasi, semakin menempa dirinya untuk sering menulis. Mencoba beberapa kali mengirim tulisan akhirnya bisa di terima dan dimuat disebuah koran lokal di Yogyakarta.

Dengan rajin mengirimkan naskah ke penerbit tambahlah uang sakunya untuk menambal kebutuhan selama pendidikan.

Jenjang pendidikan Sarjana diraih dengan segenap perjuangan dan keikhlasan.

Setelah cukup berpengalaman dalam dunia pembelajaran dan kepenulisan. Dia masuk kepada jenjang S2 di sebuah kampus di Semarang.

Jarak dari Rumah di Jogja ke Kampus di Semarang ditempuh dengan sepeda motor setiap akhir pekan. Pulang balik, hingga sudah berapa kali ban motornya pecah di jalan. Dan hafal betul titik titik jalan termpat oprasi kendaraan.

Selama satu setengah tahun melakukan perjalanan untuk kuliah menempuh S2, hingga sukses datang. Dia dapat meraih prestasi Nilai tertinggi dan Tercepat dalam meraih program S2.

Nah, inilah hasil dari kesungguhan dan ikhtiar yang tiada henti. Berkat doa dan dukungan orang tua, Allah memberikan kemudahan setelah berbagai hal yang sukar dia alami.

Semoga bermanfaat.

Kamis, 06 Juni 2019

Mudik

Kapan terakhir anda mudik? Atau sampai sekarang 1440H/2019M masih melangsungkan tradisi tahunan permudikan?

Apapun harus mudik. (pict Google)
Mudik begitu indah.

Tapi bersyarat, yaitu punya kampung halaman. Lahir di situ menikmati masa anak remaja, mengenyam pendidikan hingga SLTA, setelah itu kuliah dan bekerja di Ibukota. Dapat jodoh tidak dari kota yang sama. Barulah bisa mudik.

Bagi aku, mudik hanya nebeng istri saja. Silaturahmi tahunan wajib sungkem kepada mertua. Menjalin kekeluargaan kepada kerabat dan tetangga istri.

Karena itulah, bisa menikmati perjalanan panjang lima jaman sampai tujuan. Bantul - Purbalingga. Memang nyaman menggunakan bus EFISIENSI. bisa tiduran, turun rest area sampai tujuan tidak begitu capek.

Mengapa motoran? yah karena belum punya mobil!
pict from google.
Menikmati aspal dari Bantul melalui jalur lintas selatan selatan (JLSS). Relatif sepi sehingga mobil motor luar kota melaju begitu kencang. Apalagi melewati area Purworejo Kebumen. Belasan kali melalui jalur ini, jalan belum sepenuhnya mulus. aspal belum jadi, dan sebagian rusak.

Melewati Karanganyar Kebumen hingga Pasar Gombong pun biasanya macet lumayan parah. Baru setelah belok kanan memasuki waduk Sempor, jalan kembali agak sepi tidak seperti jalan utama.

Dari Waduk Sempor hingga ke Susukan Banjar Negara ini medan sangat foto genik. Jalan pinggir sungai berkelok memanjang. Bebatuan besar, Pohon cemara menghijau serta kontur persawahan teras siring. Ingin berhenti disini.

waduk Sempor dari sisi barat.
Jalan sepanjang sempor halus, beberapa kali kelokan dengan turunan dan tanjakan. Lumayan curam. Setelah sampai ke puncak, perlahan jalanan menurun hingga sampai ke sebuah sungai dan lapangan bola kampung. Dari sinilah, pertanda sudah berada di Kab Banjarnegara.

Setelah melewati jembatan sungai Serayu, tinggal perjalanan lurus sampai ke kota Purbalingga.

Masjid Darusalam Purbalingga.
Menelusuri jalan pinggiran kota hingga sampai ke Alun alun Purbalingga. menunjukkan perjalanan setengah hari sudah selesai.

Mudik selalu membawa kesan birrul walidain. Silaturahmi kekeluargaan. Semua ikut merasakan, baik yang muslim maupun non muslim, yang beribadah sungguh sungguh atau tidak. Semua larut dalam suasana penuh kekerabatan.

Mudik berangsur angsur tinggal kenangan setelah ibu bapak mertua telah tiada. Rumah induk keluarga juga sudah berpindah kepemilikan. Trus mau mudik kemana lagi ya enaknya?

Syawal 1440 H.

Kamis, 21 Februari 2019

Seberapa Engkau Tahu


Ya..
Seberapa engkau tahu tentang ayahmu
Beliau hanyalah seorang petani kecil
lahan garap yang tidak begitu luas
hasil panen sekedar untuk makan
bahkan sebelum panen lagi
telah hilang tumpukan gabah

Seberapa engkau tahu tentang ayahmu
Beliau hanyalah seorang guru honorer
upah yang diterima tidak lebih
beberapa lembar warna biru
ketika dipertengahan bulan
dompet lusuh itu telah melompong

Seberapa engkau tahu tentang ayahmu
Beliau hanyalah seorang guru ngaji dikampung
tiada yang memperhatikan
amplop bulanan telah lama sirna
dari angan tua nya
surga dan neraka bukan lagi
tujuan akhir hidup manusia

Sabtu, 03 November 2018

Belajar Semangat dari Bu Pairah

Semangat mengaji di kalangan ibu ibu memang luar biasa. Di mana tempat hampir semua majelis taklim di penuhi ibu ibu. Demikian pula di salah satu majelis taklim pembelajaran baca al qur’an di salah satu kampung di Kecamatan Minggir Sleman.
Ibu ibu bersemangat mengaji. Foto : koleksi pribadi

Salah satu dari peserta adalah Bu Pairah usia sekitar 74 tahun. Kerinduan yang dalam untuk bisa membaca Al Qur’an melecut semangat dan rintangan yang ada.

Karena di kampungnya tidak ada tempat untuk belajar membaca Al Qur’an, maka beliau mengikuti ditempat lain kalurahan.

Jarak dari rumah dengan tempat pengajian sekitar 3 km. melewati jalan rusak sepanjang hamparan persawahan. Dengan menaiki motor sendirian.
Berangkat mengaji tanpa ada teman, sudah merupakan nilai lebih tersendiri.

Jika tidak ada keperluan berarti maupun sakit, setiap kamis sore selalu hadir awal di majelis taklim.

Karena sudah cukup sepuh, daya tangkap dan ucap Bu Pairah tentu jauh dari peserta yang masih muda. Hal inipun tidak membuat minder semangatnya untuk bisa membaca qur’an.

Dari awal belum mengetahui jenis huruf hijaiyyah dan setelah berbilang tahun barulah bu Pairah mulai sedikit lancar membaca Al Qur’an.

Perjalanan yang ditempuh bukannya lancar lancar saja. Sudah dua kali beliau terjatuh dari sepeda motornya ketika berangkat mengaji. Hal ini juga tidak mengendurkan semangat mengajinya. Subhanallah luar biasa.

Proses dalam meraih cita cita seperti inilah yang nanti akan dinilai Allah SWT bukan hasilnya. Sudah belajar bertahun tahun, namun hasilnya masih terbata bata tentu tidak mengurangi pahala dalam mengaji.


Bagaimana dengan kita?

yang pengin ngaji qur'an dari awal wa 087738137036

Bantul 03-11-2018

Rabu, 31 Oktober 2018

Hobi Bapak Ini Luar Biasa !

Kami bertemu dengan beliau di ruang tunggu di poli sebuah rumah sakit. Perawakannya gemuk berkacamata, penuh ceria dan supel kepada sesiapa.

Hampir kepada semua diakrabinya. Banyak senda gurau penuh keceriaan, meski saat itu berada di tempat orang dengan sakit yang relatif berat.

Setelah berkenalan, baru saya tau kalau bapak ini salah satu pasien yang lebih dua puluh tahun antri untuk mendapatkan perawatan kesehatan dan obat disini.

Dua puluh tahun, waktu yang cukup lama.
Foto sebagai illustrasi. dari Raihan Sid

Beliau seorang pengajar di sebuah perguruan tinggi.

Penyakit yang dideritanyapun bukan sembarang penyakit biasa. Beberapa penyakit kelas berat pernah beliau alami. Jantung,gagal ginjal dll. Berobat hingga ke Singapura pernah dijalani.

Dengan rentang waktu yang cukup lama bergelut dengan penyakit. Namun semangat dan optimisme yang sangat tinggi, membuat usia kelihatan lebih muda.

Tidak jarang, bapak ini memberikan banyak motivasi bagi penderita lain yang berada di tempat ini.

Ada dua hal hobi bapak ini yang luar biasa.

Pertama, satu hari dalam sebulan, bapak ini selalu berkeliling ke rumah sakit, masuk ke bangsal dan menemui seorang pasien. Pasien yang sebelumnya tidak beliau kenal.

Sampai di sana, beliau beramah tamah, bersilaturahmi.

Tentu keluarga pasien terkaget kaget dengan kedatangannya.

Di akhir kunjungan beliau, tidak lupa mendoakan pasien dan memberikan amplop kepada keluarga pasien. Subhanallah.

Kedua, satu hari dalam sebulan, beliau berkeliling untuk mencari orang yang meninggal dunia. Ketika mendengar pengumuman di masjid beliau catat dimana alamatnya. Atau berkeliling mencari bendera putih berkibar.

Disitu beliau bersilaturahmi dan menshalatkan jenazah tak lupa mendoakannya.

-------------------------------------------------------------------------------------

Saya kurang tau persis, mengapa bapak ini memilih hobi yang berbeda.

Hanya bisa disimpulkan bahwa dengan banyak silaturahmi dan berkunjung orang yang kesusahan akan membahagiakan dan menghidupkan hati.

Mungkin anda tertarik untuk meniru hobby bapak ini??

Sabtu, 13 Oktober 2018

Relawan Masjid Begitu Pentingkah?

Dari masjid membangun masyarakat madani.

Masjid mestinya menjadi sentra seluruh kegiatan dimensi kehidupan. Dari pendidikan, ekonomi sampai kemanusiaan. Membangun manusia untuk patuh dan taat kepada Rabbnya. Di sisi yang lain, manusia mempunyai nilai bermanfaat bagi manusia lainnya.

Berangkat dari sini, maka peran masjid semakin urgen dan fundamental dalam membangun masyarakat secara umum. Seperti yang telah dilakukan Rasulullah Muhammad SAW.

Salah satu ciri masjid dikelola dengan manajemen kekinian adalah mulai lengkap piranti organisasi ketakmiran. Ada devisi kebersihan, baitul maal, klinik kesehatan, olah raga dan lain lain.

Devisi yang ada untuk menjawab kebutuhan jamaah yang dari waktu ke waktu berangsur mengalami kemajuan. Banyaknya anggota jamaah masjid mesti dibarengi dengan pelayanan dan pemberdayaan anggotanya.

Masjid yang dikelola secara tradisional kadang masih belum cukup untuk melangkah maju berhadapan dengan majunya zaman.

Sebuah devisi pemberdayaan anggota dan pengurus takmir adalah terbentuknya relawan masjid.

Kita kemukakan ide kemunculan relawan masjid untuk menanggapi permasalahan yang di temui personal jamaahnya.

Relawan lebih di tuntut untuk setiap saat mampu meringankan beban dan musibah yang sedang dialami jamaah masjid tersebut.

Bagaikan relawan bencana alam, relawan masjid lebih diutamakan mempunyai sikap tanggap dan cekatan memberikan pertolongan yang bersifat fisik dan sosial dalam batas kemanusiaan.

Karena untuk kebutuhan ekonomi ataupun finansial akan tertopang dengan keberadaan baitul maal.

Kemajuan pendidikan jamaah akan tertopang para asatidzah yang mempunyai ilmu agama yang mumpuni.

Sebagai contoh. Ketika ada anggota jamaah masjid yang sedang terkena kecelakaan. Mau tidak mau dia berhenti dari aktifitas keseharian. Pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan harian menjadi kalang kabut.

Sawah yang menjadi tanggung jawab pekerjaannya terbengkalai. Rumput tumbuh liar hingga menyebabkan gagal panen. Hal ini bisa teratasi jika relawan tanggap membantu menyiangi rumput tersebut. Dengan 10 relawan sehari selesai menyelesaikannya.

Ketika ada keluarga jamaah masjid opname di rumah sakit. Kebetulan tidak ada keluarganya, anak anaknya semua diluar kota, sementara saudara dekat tidak ada. Maka peran relawan menjadi sangat penting dalam kondisi seperti ini.

Untuk menempati posisi relawan masjid tidak dibutuhkan kemampuan ceramah agama, retorika yang bagus, bekal ilmu quran yang memadai dan lain lain.

Cukup dengan sikap tanggap dan enthengan, sudah menjadikan dakwah lebih berarti bagi masyarakat sekelilingnya.

Ide pembentukan relawan masjid mestinya menjadi agenda penting dan mendesak bagi para takmir masjid seIndonesia.

Berawal dari masjid mari kita galang kemajuan umat Islam yang berperadaban.

Bantul,13102018

Senin, 08 Oktober 2018

Mawlynnong, Desa Terbersih Se-Asia yang Menginspirasi

Bermula dari wabah kolera, penduduk Mawlynnong berbenah.  Upaya yang ditempuh adalah dengan membersihkan desa dan berkomitmen menjaganya agar selalu bersih. 

Kebiasaan menjaga lingkungan ini akhirnya ditularkan turun temurun hingga kini. 

Dalam kebiasaan di Desa Mawlynnong, kaum wanitalah yang mengorganisir kegiatan bersih-bersih.

Emang dimana Mawlynnong itu?? 
Mawlynnong adalah sebuah desa di distrik East Khasi Hills di negara Meghalaya di India Timur Laut. Kondisi lingkungannya seperti kebanyakan desa di Indonesia.

Kota ini terkenal dengan kebersihan dan daya tarik alaminya. Itu datang di bawah blok pengembangan komunitas Pynursla dan konstituensi Vidhan Sabha.

Pada 2003 Malynnong dikukuhkan sebagai desa terbersih di Asia. 

Ada banyak desa wisata bersih nan asri di berbagai penjuru dunia, tapi yang paling moncer ada di tiga tempat. Yakni di Belanda, desa Panglipuran di Bali, dan desa Malynnong India.

Beberapa kebiasaan dan tradisi yang terjadi di Mawlynnong adalah sebagai berikut : 

1. Tersedia tong sampah di setiap sudut desa.
2. Kompos pengolah sampah
3. Anti Kantong Plastik dan rokok
4. Denda lingkungan
5. Kesadaran warga
6. Rutin tanam pohon.
7. Sanitasi lancar
8. Kemandirian wanita
9. Melek Aksara.

Sebagian dari kebiasaan yang terjadi di Desa Mawlynnong sebenarnya sudah kita lakukan di kampung kampung kita. Hanya perlu ditingkatkan dan di seriusi sehingga akan tercipta lingkungan yang asri.

Yuks, kita awali dari rumah kita sendiri.

Foto dan tulisan diolah dari berbagai sumber. 
Menjangan.id. Republika.co.id

Selasa, 18 September 2018

Kisah Penebang Pohon Angker

Illustrasi serumpun bambu Petung. pict:kebutuhankita.com


Apa yang menarik dari sebuah pohon angker? Bagi seorang pedagang kayu tentu : harganya yang murah. Dengan harga relatif miring dari pohon biasa, akan lebih mudah dan cepat dalam menjualnya.

Pak Hardi, salah satu pedagang kayu olahan sudah terbiasa menebang pohon pohon yang dianggap angker oleh masyarakat sekitar.

Pemilik pohon yang tidak mampu untuk menebang sendiri, tetanggapun juga tidak ada nyali untuk menebangnya.

Sudah sekian banyak pohon angker yang sudah ditumbangkan Pak Hardi.

Dari berbagai pohon angker yang ada di  sudut pedesaan hingga di perkotaan. Ada serumpun Bambu Petung, Pohon Preh, Beringin, Munggur, Nangka, Jati dan lain lain.

Salah satu kisah menarik yang dia alamai adalah penebangan serumpun bambu Petung di  kampung Mangir Bantul.
Illustrasi

Sudah menjadi cerita turun temurun di Kampung yang dicap wingit ini acap kali terjadi, peristiwa aneh berbau mistis diluar nalar manusia.

Saat itu, selama beberapa hari Pak Pardi menyelesaikan penebangan bambu. Terlihat ada Bekicot menempel di batang pohon bambu berwarna warni.

Tidak seperti biasa, ada yang berwarna hijau, biru, merah. Tergerak hati Pak Hardi untuk mengambilnya dibawa kerumah untuk mainan anaknya yang kecil.

Bekicot di bungkus dalam plastik yang terbungkus rapat dengan diikat diujungnya.

Naas saat itu dialami Pak Hardi. Batang pohon bambu yang dia tebang terlepas dari jepitan batang pohon lain.

Secara perhitungan akal, harusnya pohon itu cukup aman ketika ditebang.

 Tiba tiba datang hembusan angin cukup kencang, lepas dari jepitan pohon yang satu dan mengenai muka Pak Hardi. Braakkk!

Darah mengucur dari muka Pak Hardi. Akhirnya dia turun, duduk dibawah pohon untuk sementara waktu atas sakit yang dia alami.

Dalam beberapa hari badan panas dingin di malam hari. Sekumpulan Bekicot warna warnipun hilang entah kemana, tinggal disisakan plastik pembungkus dalam kondisi terikat diatas.

Penebangan selama beberapa hari di selesaikan, meski ada kecelakaan yang dialami di awal proses penebangan.

Campur tangan jin ataupun sebangsa makhluk halus kadangkala berada di alam manusia. Ketakutan manusia acapkali membuat makhluk halus ini menyombongkan diri untuk dihormati. Minta syarat ini itu.

Bagi orang beriman hanya kepada Allah lah berserah diri dan bertawakal, termasuk dari gangguan jin syetan dan manusia.




Senin, 17 September 2018

KH KRT Yudonodipuro Ustadz Khas Yogyakarta

Melihat namanya saja sudah bisa ditebak, jika bapak ustadz yang satu ini berasal dari Yogyakarta. KH KRT Yudonodipuro kalau di panjangkan menjadi Kyai Haji Kanjeng Raden Tumenggung Yudonodipuro.

Meski sudah melanglang buana seantero pelosok Yogyakarta, pak Yudono belum seterkenal Ustadz regional yang lain seperti Pak Sunardi Syahuri dll.

Pak Yudono, bertempat tinggal persis di sebelah utara kantor Kecamatan Mergangsan. Tepatnya di Kampung Karanganyar Jalan Sisingamangaraja Yogyakarta. Beliau aktif berdakwah dibawah naungan di PDHI (Persaudaraan Djamaah Haji Indonenesia).

Sering  diaturi mahasiswa yang sedang KKN untuk memberikan pengajian di lokasi KKN. Penyampaian beliau yang khas kejawen serta pakaian kebesaran yang beliau kenakan sewaktu memberikan pengajian. Hal itu menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat pedesaan.

Sudah lebih dari tigapuluh tahun beliau berkecimpung di dunia dakwah. Karena berlatar belakang abdi dalem kraton dan sangat paham dunia kejawen, maka yang beliau sampaikan berhubung dengan dunia tersebut.

Penyampaian yang lugas serta diselingi joke, dagelan yang segar membuat pendengar bersemangat dalam mengikuti selama acara pengajian. Belum lama, beliau mengisi pengajian Ahad Wage di Masjid Baitul Muqoddimah Bantul Kota.

Kehadiran sosok dai seperti Bapak KH Sunar Yudono (nama kecil beliau) mampu membawa nuansa lain. Bahwa dakwah islam tanpa meninggalkan budaya setempat, tapi memang ada beberapa hal yang perlu diluruskan.

#KHSunaryudono,Yudonodipuro,UstadzJogja,Ustadzsepuh,UstadzMergangsan,Ustadz,Jogja,Yogyakarta,

Selasa, 11 September 2018

Ini Dia Alasan Utama Belajar Membaca Al Qur'an

Al Qur'an dengan berbahasa arab, adalah bahasa asing bagi orang Indonesia.

Sebagian masyarakat Indonesia sudah mengenal pembelajaran membaca Al Qur'an sedari kecil.

Karena Al Qur'an sebagai kitab suci kaum muslimin, sehingga keberadannya tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Namun ada sebagian orang muslim yang sudah dewasa baru menyadari betapa pentingnya mempelajari Al Qur'an (baca: belajar membaca).

Atau, di waktu kecil lingkungannya tidak berada dalam suasana yang agamis.

Berikut alasan utama itu.

1. Menjadi manusia terbaik.

Seperti dalam hadist yang diriwayatkan Bukhari, disana disampaikan isinya seperti ini.

" Sebaik baik diantara kalian adalah orang yang belajar Al Qur'an dan yang mengajarkannya." (HR.Bukhari)

2. Mendapatkan pahala di saat belajarnya.

Hal ini termaktub dalam hadist Muttafaq'alaih.

"Orang yang pandai membaca Al Qur'an, dia akan bersama para malaikat yang mulia dan taat. Sedangkan orang yang membaca Al Qur'an dengan terbatah batah dan mendapat kesulitan, maka baginya dua pahala." (HR Muttafaq'alaih).

3. Menjadi Penolong di Hari Kiamat.

Dengan mempelajari  Al Qur'an dan membacanya selama hidupnya di dunia, maka kelak Al Qur'an akan memberikan pertolongan ketika berada di Hari Kiamat.

"Bacalah Al Qur'an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong orang yang membacanya.' (HR. Muslim)

Ketiga hal tersebut menjadi alasan utama kita untuk lebih semangat dalam mempelajari Al Qur'an.

Selasa, 28 Agustus 2018

Mejeng di Koran Lokal, Bagaimana Caranya?

Jaman sudah sedemikan maju, perangkat canggih dan media social bertebaran dimana mana.

Namun, keberadaan Koran lokal masih cukup diperhitungkan di berbagai kalangan. Karena kehadirannya telah berpuluh puluh tahun membersamai masyarakat dalam mengarungi kehidupan.

Maka dari itu, berbagai instansi masih mempercayakan Koran lokal seperti Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta untuk mempublikasi peristiwa dan bukti publikasi di masyarakat.

Sebuah kegiatan sekolah ataupun lounching rumah makan yang baru dirintis. Hal ini sangat memungkinkan dengan mempublis acaranya melalui media Koran lokal.

Dengan disebarluaskannya acara di sebuah sekolah, maka bisa menunjukkan sekolah tersebut banyak kegiatan kegiatan positif yang akan menunjang akreditasi sebuah sekolah. 

Demikian pula untuk kegiatan social maupun aktifitas lembaga profit maupun non profit.

Berbagai cara yang bisa ditempuh untuk bisa ditayangkan di media lokal adalah dengan cara : Menulis di rubrik surat pembaca, Audiensi di kantor redaksi, pasang iklan baris maupun display, peliputan acara dan kegiatan.


Bagi yang belum pernah melaksanakan kelihatan cukup rumit untuk  merealisasikan. Untuk mempermudah bisa sms wa ke 087738137036

Sabtu, 11 Agustus 2018

Mengapa Tidak Bisa Baca Qur’an Rugi?

Ada yang tau jawabnya? Yaps!! Salah satunya adalah karena Al Qur’an akan memberikan  syafaatnya ketika nanti di hari kiamat. Sebuah pertolongan yang luar biasa, ketika saat itu tidak ada penolong yang lain.

“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong orang yang membacanya.” (HR Muslim).

Ada yang lain? ya, karena sebagian besar ibadah dalam Islam berbahasa arab bersumber dari Al Qur'an. Maka dengan mempelajarinya menambah kesempurnaan dalam beribadah. Dan itu tidaklah sulit.

Al Qur’an, meski berbahasa asing, namun dalam kenyataan sangat mudah untuk dipelajari bagi siapapun. Tidak harus berpendidikan menengah atau tinggi.

Berbagai metode pembelajaran terus berkembang sebagai wahana untuk mempelajarinya.

“Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah yang mengambil pelajaran?” (Al Qomar (54):17)

Metode Tsaqifa salah satu metode pembelajaran Al Qur’an yang sangat praktis. Dirancang bagi calon pembelajar yang sibuk, namun mempunyai semangat untuk belajar.

Dengan target hanya lima kali pertemuan, muta'alim (pembelajar) diharapkan mampu membaca Al Qur’an. Metode pembelajaran ini disusun oleh Ustadz Umar Taqwim dari Magelang Jawa Tengah.

Terbukti mudah.

Al qur'an yang berisi 6236 Ayat, 114 Surat dan terbagi atas 30 Juz mempelajarinya bukanlah sesuatu yang sulit. Sampai sampai mudah untuk dihafal. Bahkan seusia anak anak.

Bu Pairah (75th) yang tinggal di Minggir Sleman mampu belajar dari nol hingga membaca Al Qur’an meski terbata. Maklum perangkat lisannya sudah tidak genap lagi. Di sisa umurnya, bisa banyak dimanfaatkan sebaik baiknya dengan membaca kitab suci ini.

Yang belum bisa baca Qur’an. Yuks bareng bareng kita mempelajarinya. Area Bantul dan sekitarnya bisa wa ke 087738137036

Rabu, 08 Agustus 2018

Refleksi Gempa Lombok Utara

Belum lama setelah Zohri mencuatkan Kabupaten Lombok Utara di forum perbincangan nasional, menyusul gempa dahsyat melanda kabupaten ini. Gempa terjadi pada hari Ahad 5 Agustus 2018 Jam 18.46 Wib. Pulau Lombok menjadi tambah terkenal.
Foto : Antara.

Secara pribadi saya sangat kangen untuk berkunjung kembali ke Pulau Lombok terkhusus di Kabupaten Lombok Utara. Berada disana selama satu bulan, cukup untuk menjadi kenangan manis dalam penggalan hidup ini.
Brugak, Tempat menerima tamu.

Kala itu, pada bulan September 2009 di awal bulan Romadhon. Menapakan kaki pertama kali di Pelabuhan Lembar Pulau Lombok. Karena malam hari, setelah turun dari bis di terminal masih sangat sepi. Hanya daun daun pohon kelapa meliuk diterpa angin malam.
Suasana TPA anak anak lombok utara 2009

Setelah bermalam beberapa saat, akhirnya dianter temen menuju sebuah Dusun. Bernama Dusun Rempek Kecamatan Gangga Lombok Utara.

Menyusuri jalan aspal halus meski tidak lebar. Setelah meninggalkan kota Mataram membelah bukit Pusung jalan naik dan berkelok kelok menurun menuju kota Kabupaten Lombok Utara yaitu Pamenang.

Di Kota Pamenang, terlihat berjejer bendi bendi menunggu penumpang di dekat pasar. Bendi sebagai alat transportasi lokal yang masih eksis waktu itu. Tidak jauh dari situ, ada pertigaan menuju tempat wisata paling terkenal yaitu Gili Trawangan.

Perjalanan dilanjutkan. Menyisir aspal yang tidak terlalu lebar namun halus ke arah Kecamatan Bayan. 

Sepanjang perjalanan waktu itu, tampak pohon pohon kelapa berjajar. Rumah rumah dan masjid relatif masih sederhana. Ukuran rumah tidak terlalu tinggi dibandingkan rumah di Jawa. Entah sekarang.
Pusung, Puncak bukit sebelum turun ke kota kec. Pamenang.

Bangunan masjid terkenal megah dan luas di Pulau Lombok. Meski, kondisi perkampungan sederhana, untuk pembangunan masjid menjadi simbol kemegahan dan menjunjung tinggi nilai nilai keagamaan.
Rumah tradisional Lombok

Selama sebulan di Pulau Lombok saat itu. Kondisi rumah warga dan masjid dimana saya tinggal masih cukup jarang. Rumah rumah masih sederhana, belum berstandar bangunan anti gempa.

Ketika, terjadi gempa dengan Magnitudo 7 SR, alhamdulillah tidak memakan banyak korban.

Pernah suatu ketika dalam acara sharing dengan jamaah masjid, saya sampaikan, bagaimana kejadian gempa di Bantul dan sekitarnya.

Tanah yang seolah olah tidak mau untuk diinjak, malam gelap, tidur di tengah jalan, tenda darurat, makan seadanya.

Oh, ternyata apa yang aku sampaikan saat itu, menjadi kenyataan yang harus dihadapi saudara saudaraku di Rempek Gangga Lombok Utara.

Semoga kejadian ini mempertebal keimanan kita atas kekuasaan Allah SWT.

Senin, 30 Juli 2018

Heroiknya Santri Kabur dari Ponpes

Mendengar anak sahabat kabur dari pondok pesantren bikin hati pilu.  Untuk yang kesekian kali berita seperti ini acap membikin sedih, haru dan prihatin.

Maksud hati orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anak, namun suasana hati anak dan lingkungan sepertinya ada yang belum sepenuhnya bersahabat.

Dari orang tuanya bercerita:
Anaknya sudah beberapa hari bilang kepada ibu dapur pondok untuk segera diantarkan ke tempat asal. Namun, ibu dapur bilang tidak tau jalan untuk mengantarnya. Akhirnya anak santri berinisiatif untuk mencari celah untuk kepulangannya.

Saatnyapun tiba, Ketika anak anak diajak ke sebuah waduk untuk mengenalkan lingkungan, beringsut dia menyelinap menjauh dari rombongan. Setelah berjalan beberapa saat, dia menghampiri seorang ibu, bertanya kearah mana untuk sampe ke stasiun.

Dari ibu ini, ternyata dititipkan kepada sopir truk yang melintas. Hingga akhirnya sampai ke stasiun kereta api.

Dengan sisa uang saku yang dibawa dia memperoleh tiket hingga sampai ke kota asal. Turun dari kereta, mencari ojek online kea rah kantor tempat ayahnya bekerja.

Begitu terkejutnya sang ayah melihat anaknya tiba tiba masuk ke kantornya. Degg!!

Tidak hanya anak laki laki yang nekat keluar pulang dari ponpesnya, banyak juga anak anak perempuan lari keluar karena berbagai hal.

Karena belum siapnya anak berpisah jauh dengan ortu, temen temen baru, lingkungan asrama tidak seindah rumah, gesekan dengan teman tidak suka sama ustadz, aturan yang mengikat.

Semua menjadi alasan menjadi logis untuk dijadikan memompa semangat segera loncat dari gerbang ponpes.
Harapan kadang memang tidak seindah kenyataan.

Banyak hal yang harus dipersiapkan orangtua ketika suatu saat ingin memasukkan pendidikan di Pondok Pesantren. Persiapan mental jauh jauh sebelum kelulusan. Melihat dan berkunjung suasana ponpes. Konflik yang kadang terjadi.

Usia anak merangkak remaja masih merasa butuh elusan lembut orang tua. Berdekat dekat . Namun, niat mulia orang tua dengan memilihkan pendidikan yang baik memang butuh persiapan yang cukup panjang.


Jangan takut memasukkan anak ke Ponpes.

Sabtu, 14 Juli 2018

Bagaimana Kabar Nyawal Kita?

Banyak yang bilang Puasa Nyawal lebih berat dibanding puasa di Bulan Ramadhan. Mengapa?

Karena kita sedang dalam kondisi banyak makanan dirumah, banyak perhelatan, banyak undangan dll.

Apalagi kita baru saja melakukan ibadah secara full pada hari hari sebelumnya.

Tidak ada salahnya kan kita balas dendam sedikit. hehehe...

Ada tiga kondisi pada masing masing kita dalam menyambut Puasa Syawal.

Pertama, ada sebagian yang masih keenakan melakukan puasa bulan Ramadhan, sehingga keenakkanya puasa dilanjut di Bulan Syawal.

Dan ia pengin, Puasa Ramadhannya lebih disempurnakan dengan menunaikan puasa enam hari di Bulan Syawal.

Cukup dua hari makan enak sepanjang hari, setelah itu lanjut puasa.

Hal ini gak masalah jika yang melakukan lebih banyak di rumah dan tdk banyak relasi di luar. contohnya ibu ibu rumah tangga sejati.

Yang puasa di awal bulan tentu sangat memperhatikan bahwa dengan puasa enam hari dia akan beroleh pahala bagai puasa setahun penuh.

Yang kedua, adalah melaksanakan Shaum Syawal dengan loncat hari.

Dia melaksanakan sewaktu tidak ada agenda penting maupun bepergian.

Sebagian malah melakukannya sekalian pada hari Senin dan Kamis karena dia ingin melestarikan amalan puasa itu.

Selepas dari bulan Syawal yaitu puasa Senin Kamis sepanjang waktu hingga nanti bertemu Ramadhan lagi.

Luar biasa!!!

Yang ketiga, mereka yang melaksanakan puasa di akhir akhir di bulan Syawal menunggu acara kondangan selesai.

Dengan menunda seperti ini ada dua kemungkinan pertama, kalau dia cermat menghitung waktu, pasti puasanya akan kelar seperti yang ia harapkan.

Dan yang extrem sibuknya, bakalan akan kehilangan moment syawalnya. ingat ingat bulan syawal tinggal lima hari atau kurang dari itu. hiks..hiks..☺☺☺☺

Karena hidup adalah pilihan. Monggo sampeyan lebih paham diri anda sendiri ketimbang saya.

Rabu, 11 Juli 2018

Ketika Sepak Bola Bukan Sekedar Pertandingan Olah Raga

Demam bola terus merangsek hingga ke sudut sudut sempit saentero dunia. Perhelatan akbar sepakbola dunia menyihir hampir seluruh penduduk bumi. Mata dan perhatian seisi bumi tertuju pada satu titik:BOLA!

Gelaran piala dunia 2018 di Rusia sebagai puncak ritual olah raga paling populer sedunia. Pertanda apakah ini? Sepakbola sudah diterima sebagai ritual dunia mampu melintas berbagai suku, budaya bahkan agama.

Moment moment penting keagamaan kadang sampai terkalahkan atau kalah populer dari perhelatan sepakbola dunia. Beberapa istilah dan fenomena yang menggejala sudah cukup menjadi penanda bahwa sepakbola sepertinya lebih penting dari riutal agama.

Tua muda remaja dewasa hingga ibu ibu larut dalam gegap gempita parade sepakbola dunia. Setiap ajang perbincangan terbumbui dengan aroma pemain, kalah menang pertandingan dan isyu bola lainnya.

 Bola bola dan bola.

Berikut fenomena fenomena itu.

1. Beberapa istilah dalam agama digunakan dalam bahasa sepakbola. Misal: Dosa terbesar didalam sepak bola adalah dengan sengaja menyentuh bola didalam kotak pinalti. . Dzkir dan doa yang di panjatkan di penghujung malam berubah menjadi teriakan "golll..."

2. Membela club sepakbola kebanggangan dengan berkorban harta bahkan mempertaruhkan nyawa. Berhari hari mendukung club esayangan hingga keluar kota. Ketika bentrok dengan supporter lain, sampai berdarah darah hingga meregang nyawa.

3. Meninggalkan ritual ibadah shalat malam demi melihat pertandingan kelas dunia. Menunggu dengan sabar hingga acara di mulai. Bahkan kecewa ketika waktu berlalu tanpa kita tidak bisa melihat sebuah pertandingan.

4. Beberapa pemain bola dinisbatkan dan disetarakan sebagai orang yang selevel dengan Nabi atau pemuka agama. Sebut saja, Messiah (gelar sanjungan untuk Messi) Agama baru yang mengganggap Maradona sebagai legenda besar. Dengan pengikut 200ribu orang. mereka menyebutnya Iglesia Maradoniana (Pemuja Diego Maradona).

5. Prediksi pertandingan dengan melibatkan hewan dan lain sebagainya semakin memandulkan peran akal sehat.

Dan begitulah yang terjadi saat ini berkaitan dengan dunia sepak bola. Bukan lagi sebagai permainan untuk prestasi dan kesehatan, namun permainan sepak bola sudah di anggap sebagai agama untuk mndapatkan kebahagiaan bahkan mampu untuk menyelamatkan kehidupannya.

Bagaimana menurut anda???

Kita petikkan satu ayat yang layak kita merenungkannya.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (Qs Al-Hadid: 20)

Bantul,11 Juli 2018

Minggu, 01 Juli 2018

Bagaimana Jika Anda Begini?

Usai menunaikan shalat Isya' di masjid terdekat. Malam itu, ingin rasanya berkunjung ke rumah saudara. Entah apa kog rasa "ingin" itu begitu menggebu.

illustrasi
Berada di ruang tengah rumah saudaraku yang sakit. Umurnya sekitar 47tahun. Terlihat badannya semakin kurus, dengan tidur melengkung miring ke kiri.

Sudah hampir tiga tahun saudaraku ini menderita stroke.

Berangsur angsur kondisi fisiknya semakin  melemah. Ketika terserang pertama kali langsung opname ke rumah sakit sekitar seminggu. Selanjutnya therapi ke rumah sakit atau alternatif dengan mengundang tabib.

Dari bisa berjalan tertatih, kaki lama kelamaan susah di gerakkan dan sekarang hanya bisa tiduran diatas tikar di ruang tengah.

Beberapa kali terjatuh dari kursi roda ketika kejang kejang menghampiri secara mendadak. Kejang hadir rerata sebulan sekali bagi penderita syaraf.

Akibat terjatuh kadang berakibat fatal bagi si sakit.

Istrinya yang dulu bekerja sekarang di rumah merawatnya. Satu anaknya bekerja menjadi tulang punggung keluarga, dan satunya masih sekolah.

Rumahnya seringkali terlihat lengang, tidak ada tawa canda meriah memenuhi ruang ruangnya.

Si sakit selalu berpesan kepadaku untuk selalu menjaga kesehatan. Sehat adalah segalanya. Sekali waktu dia mengenang masa masa sehat. masa ketika segalanya nampak indah dan menggairahkan mengarungi kehidupan.

Namun itu dulu. Sekarang waktunya banyak dia pergunakan untuk merenung dan tergolek lemah sambil berharap sehat segera menghampirinya.

Sahabat...Adakalanya kita harus berkunjung ke rumah pesakitan. Dari situlah rasa syukur menyeruak. Bahwa sehat itu tidak selamanya bersama kita. Sakit atau bahkan mati menjadi bagian dari ritme kehidupan selama di dunia.

Bantul, 29 Juni 2018